Muncak Ter’X-TREME, hampir merenggut nyawaku

7 10 2008

Kata Inul kalo gak goyang sperti sayur tanpa garam lain halnya dengan aku, liburan gak muncak bukan liburan namanya. Seperti postinganku sebelomnya, kemaren sabtu tepatnya tanggal 4 Oktober 2008 habis lebaran aku & kak Mardies muncak ke Gunung Argo Jombangan. Kami berangkat naek motor Pkl. 15.30 dari rumahku. Sesekali dalam perjalanan kami mampir kerumah temen sekalian silahturahmi. Jalan sangat nanjak banget, walo dah di aspal tapi motor yang kami pake tetep gak kuat buat nanjak (maklum motor tua 😆 he…he..he… “walo gitu sangat berjasa se”) alhasil aku harus jalan biar tu motor bisa tetep jalan. Karena mungkin aku punya kaki kayak sonic, Kak Mardies yang nancap duluan cari rumah Bu. Musriah (Ibu Sugeng Yusuf temen kuliah kami) pake motor bisa aku selip, yang berujung aku tersesat nuncep di SD Plukaran di desa Beji kaki Gunung Argo Jombangan. Tapi akhirnya Kak Mardies dengan ilmu kaki seribunya bisa nemuin aku & kami berhasil kerumah Bu. Musriah walo sempat tersesat & tanya-tanya orang. Sambutan Bu. Musriah & anaknya yang hangat sangat menolong kami, bahkan kamipun dijamu olehnya & dipinjami clurit & senter.

Setelah Adzan Magrib usai sekitar Pkl. 18.30 kami berangkat menuju puncak dengan bekal penerangan 1 senter batrei & 2 senter korek. Awal perjalanan sangat mudah karna da jalan yang dach dibuat oleh penduduk, walau begitu, juga sangat menguras tenaga karna jalannya sangat nanjak. Sesekali aku merasa merinding & ketakutan karena seklebat tercium kembang melati & itupun terjadi stiap kami berhenti mengobrol (Mang dasar penakut,… kembang kopi yang baunya kayak kembang melati juga bisa bikin aku merinding 😆 he….he….he…). Karena cuaca mendung & kami dach terlalu dalam masuk kehutan, sering kali kami bingung cari jalur pendakian karena gelap. Seperti yang aku takuti, akhirnya kami tersesat dalam ujung jalur yang buntu & dach gak mungkin tuk kembali. Karena keadaan gelap kami putusin tuk nekat manjat tebing didepan “ternyata tu tebing sangat tinggi & bisa membunuh kami bila terpeleset ” (aku tau tinggi waktu turun dari puncak, kata 2 temen baruku “kalian bukan manusia bisa lewat tu tebing” la truz kami ni apa mas??). Manjat step by step secara hati-hati & perlahan-lahan, bergelantungan, terperosot, kelongsoran tanah menemani kami dalam perjalanan. Parahnya ranting pegangan patah, tanah pijakan longsor & rumput peganganpun ikut jebol karena gak kuat menahan berat tubuh. Disini aku sempat putus asa, perasaan takut slalu menghantui & pikiran negatif bahwa mati terjatuh truz terlintas dalam benakku.

Badan letih capek dach terasa & tenggorakan mulai gersang , bahkan cacing dalam perut mengeluarkan amarahnya karena belom di bri sesaji. Mo makan & minum berarti mati karena melepas pegangan jadi, terpaksa kami lanjutkan perjalan dengan kehausan & kelaparan. Melihat nasib kami, seolah-olah langitpun mulai menangis dengan meneteskan airmatanya yang malah membuat keadaan semakin buruk karena rumput pegangan semakin licin 👿 . Waktu smakin gelap & dingin, tenaga yang tersisapun sangat limit, jarak pandangan mulai smakin pendek. Karena mungkin takut mati, kami tetap bertahan & trus naek & naek walo tuk matahin batang sebesar batang lidi sangat kesusahan & membutuhkan waktu yang lama. Perjuangan kami akhirnya membuahkan hasil, kami menemukan tempat yang bisa untuk istirahat. Mungkin karena terlalu senang, aku naek dengan terburu-buru akhirnya kakiku mengalami kram parah yang sakitnya sungguh luar biasa 😥 . Dalam situasi kerintihan kami gunakan waktu tu buat istirahat, mengairi tenggorokan yang dach gersang & memberi sesaji pada cacing perut biar gak marah lagi. Waktu istirahat kami menemukan jalur pendakian, kami putuskan tuk mengikuti jalur tu. Walo sempat tersesat lagi tapi akhirnya kami sampai puncak. Kami sampai dipuncak Pkl. 23.30 jadi perjalanan pendakian kami lalui selama 5 jam yang seharusnya bisa ditempuh hanya dengan 2 jam jalan santai. Di puncak kami bertemu dengan 2 orang pendaki bersodara dari desa Bongsri Pati. Kami ditolong mereka dengan dipinjami kompor gas buat masak & diijikan tidur dalam tenda mereka. Keesokkan paginya masak-masak & aku puas-puasin melihat pemandangan di puncak. Setelah kabut tersapu bersih oleh angin kami putusin tuk turun bersama. Waktu turun Cuma memakan 1 ½ jam kurang karena jalan menurun. Wach tu sungguh pengalaman yang bakal sulit aku lupain. Smua tu dapat aku lalui & masih di bri kesempatan bernafas tu smua sungguh anugrah TUHAN. Tnx’s God,…… 😀

Iklan