Menariknya puncak pertapaan Eyang Abiyoso & Ekstrimenya 3 Puncak Atas Angin

15 11 2008

Bermain air gak seru kalo gak sampai basah, begitu pula muncak dipegunungan Muria gak akan puas bila ada yang belum didaki. Aku gak tau ada berapa banyak gunung di pegunugan Muria, kemaren aku coba lengkapi petualanganku di Pegunungan Muria dengan muncak ke Gunung Abiyoso & Gunung Atas Angin yang sebelumnya aku sudah ke G. Termulus, G. Argo Jombangan & G. Argo Piloso. Sabtu 8 November kemaren jadi momen petulanganku yang ke-4 sekaligus gunung ke-4 & ke-5 puncak Pegunungan Muria yang aku jajahi dalam 1 tahun ini.

Kali ini aku berangkat masih berdua dengan Kak Mardies karena team kami ada yang capek habis pergi ke Jogja ( Kak Armant “cool leader” & Kak Wal), ada yang males karena memang besok seninnya kami harus kuliah ( Kak Enik ), ada yang istirahat dulu karena pas di G. Ungaran mengalami cedera ( Kak Evi ), & ada yang gi sakit cacar jadi gak bisa ikut ( Atik ),.. yach begitulah???? Tapi walo berdua perjalanan tetep seru, asyik & pokoknya patut disimak dach critanya 😀 , jadi critanya begini :…..

Puncak G. Atas Angin

Puncak G. Atas Angin

“Menurut pengalaman kemaren baca postingan sebelumnya kami putuskan tuk berangkat pagi karena takut terjadi kecelakaan. Waktu menunjukkan pkl. 09.00 WIB Kak Mardies menjemputku & kami packing persiapan selama 1 jam & langsung cabut melewati daerah Gembong. Lagi-lagi karena kekreatifan kami, dalam perjalanan kami nanya-nanya jalan sampai lebih dari 15 kali. Dalam ketanya-tanyaan, kami tetap saja hampir tersesat & malah mau menuju ke Puncak Sapto Argo “puncak 29” yang pada akhirnya kami harus turun menuju jalur penitipan sepeda motor tepat persis didepan gerbang jalur ke Pertapaan Eyang Abiyoso “Puncak Abiyoso”. Sesampai disana kami istirahat dengan jajan disebuah warung. Setelah capek lumayan ilang kami lanjutin perjalanan dengan jalan kaki. Seperti kebanyakan di gunung-gunung yang paling mengesalkan adalah melihat sebagian hutan yang telah menjadi ladang penduduk & melihat bekas-bekas penebangan pohon. Jalur pendakian berbatu-batu, nanjak & udara sangat panas padahal waktu tu cuaca mendung. Saking panasnya, kringat dalam tubuhku seakan mengguyur tubuhku bagai mandi disiang bolong, tak cuma tu doank langitpun seakan trasa ikut kepanasan sampai meneteskan keluhnya begitu deras. Walo cuaca gak mendukung dengan susah payah & kecapekan akhirnya kami berhasil sampai di Puncak Abiyoso. Setelah istirahat sebentar kira-kira sekitar jam 15.30 WIB kami putuskan meneruskan perjalanan ke G. Atas Angin dengan bertanya jalur pada juru kunci G. Abiyoso & sempat juga dicegah para peziarah karena cuaca yang buruk & waktu dach mo petang. Dengan modal nekat & memburu waktu akhirnya kami berhasil sampai di G. Atas Angin & menginap barang semalam. Pada waktu istirahat kami bertemu dengan 2 orang petualang asal jepara yang tangguh karena baru pertama kali muncak, tapi yang kami sesalkan salah satu dari mereka merasa kapok 😥 . Malam yang seharusnya sepi karena ditengah hutan & diatas gunung, tapi di G. Atas Angin terdengar candaan tawa dari puncak Abiyoso karena anak SMA yang mengadakan acara disana & hujanpun juga sempat bebrapa kali nimbrung menambah keramaian. Keesokan paginya kami lanjutin menelusuri puncak G. Atas Angin yang kebetulan memiliki 3 Puncak, lebar jalan kira-kira 1-2 Meter, kanan – kiri jurang sebagai tantangan, kabut tebal yang mulai naek sebagai penambah bumbu keseruan & sesekali manjat batu yang lumayan tinggi karena menghadang jalan kami. Wach tu seru banget & sangat menegangkan. Sesampai dipuncak ke-2 kami bertemu dengan 3 orang MAPALA dari UMK yang mendaki melawati jalur memutar yang lebih aman. Karena mereka cuma mendaki sampai ke puncak ke-2 & ke-3 saja jadi kami putuskan tuk berangkat bersama menuju puncak ke-3 melewati jalur yang mereka lewati.

 

 

Sesampai dipuncak ke-3 kami nikmati pemandangan & turun bareng dengan para MAPALA UMK. Karena kami begitu menikmati pemandangan, akhirnya kami tertinggal jauh dari mereka. Karena jalur gak terlalu berbahaya & pemandangan yang luar biasa keren & 90% masih asri gak terasa kami sudah sampai di Puncak Abiyoso lagi. Istirahat sebentar trus kami lanjutin perjalanan, mampir ke Sendang & lanjutin perjalanan pulang. Karena fajar hujan, jalur turun lumayan gelap tertutup kabut. Dengan menikmati pemandangan yang tertutup kabut akhirnya kami sampai juga di tempat penitipan sepeda motor. Disana kami melihat para anak SMA yang habis turun dari G. Abiyoso (“Rombongan yang sangat rame karena malem-malem suaranya sampai ke G. Atas Angin”). Sesampai disana kami jajan sebentar & langsung cabut pulang dengan diiringi tangisan perpisahan langit Desa Rahtawu 😥 .