Malu = SOMBONG

1 12 2008

Siapa yang gak pernah merasa malu? Pasti smua orang pernah merasakan yang namanya malu. Tapi, lihat bagaimana perasaan malumu! Apakah berlebihan atau biasa saja? Ibuku pernah bilang :

“Jadi orang jangan suka malu ntar malah malu – maluin jadinya
kamu akan tambah malu.”

Kemaren tanggal 29 dan 30 November 2008, Anak PMK ( Persekutuan Mahasiswa Kristen ) STIMIK AKI Pati mengadakan retreat Mahasiswa STIMIK di Fila Kurnia Colo Kudus. Acaranya sangat seru, asyik, dan menyenangkan. Berkat yang didapat stiap pribadi masing – masing juga dasyat. Tapi di retreat ini aku gak mendapat berkat baru bagi hidupku. Di hari pertama, di stiap sesi dan KKR aku bertanya pada Tuhan,..

“Tuhan berbicaralah………….. berkat apa yang mau Kau bri di retreat ini?”

Sesi demi sesi dan KKR aku truz simak dan cari berkat Tuhan, tapi aku tetap gak mendapatkan apa – apa. Sebelum tidur, kami mengadakan renungan. Waktu itu Pak Bayu memimpin acara itu dalam kamar, ia bertanya;

“Coba kalian ingat stiap acara yang tadi kalian ikuti, berkat apa yang
Kalian dapat? Gak mungkin kalian gak dapat berkat, Tuhan
pasti taruh suatu berkat bagi kalian gak mungkin tidak.
Coba kalian renungkan, dan kalian share stiap berkat pada kita. Belajarlah berbicara dan berbagi berkat.”

Aku bingung, soalnya aku merasa gak menerima berkat dari stiap sesi dan KKR. Waktu ditunjuk untuk share aku tambah bingung, aku coba berfikir tenang dan disini aku bertanya pada mereka tentang masalah pribadiku, waktu itu aku ngomong,..

“Tadi dan dulu waktu retreat di Bandungan, Pak Guntar pernah bilang, Pelayananmu harus maksimal karena bila tidak, gak usah ikut pelayanan. Aku merasa pelayananku selama ini biasa – biasa saja, bahkan aku ngerasa pelayananku gak maksimal. Stiap pelayanan hatiku gak tertuju pada Tuhan,
karena jalan menuju Tuhan seakan tertutup rasa malu dan takut.
Aku bingung kenapa malu = SOMBONG?
Aku rasa itu gak saling berkaitan, apa yang menghubungkan perasaan malu dan sombong?
Sebenarnya pertanyaan itu ingin aku tanyakan langsung pada Pak
Djarot yang dulu mengatakan malu = SOMBONG.
Dulu Pak Djarot pernah bilang orang yang malu adalah orang yang membesarkan sifat keakuannya. Orang yang malu selalu memikirkan aku, aku dan aku. Perasaan merasa dirinya selalu diperhatikan orang, disorot orang itulah dasar perasaan malu. Kalo dipikir memang benar, karena bila begitu selama ini aku sok jadi artis, gimana gak?
coba kalian pikir, sombong bener aku merasa diperhatiin orang, memang siapa aku ini?
Ya gak?
Aku berfikir kalau malu = sombong bila diterusin bakal menjadi egois, kenapa gak? Coba kalian pikir bila smua berfikir aku, aku dan slalu aku bila diterusin pa gak egois? Kalau smua berhubungan begitu bagaimana
caraku agar pelayananku maksimal dan aku bisa menghapus perasaan malu itu?”

Dalam hal ini aku merasa lega sudah berani mengutarakan masalahku selama ini. Disini Pak Sam sangat memberkati aku dengan jawabannya. Pak Sam berbicara bahwa perasaan malu gak bakal bisa kita hapus selama kita masih hidup, karena selama manusia masih hidup berarti kita masih tinggal dalam kedagingan dan masih sering bermain dalam kubangan Lumpur Dosa. Terus bagaimana cara kita? HINDARI itu jawabannya! Karena bila kita selalu berfikir hapus perasaan malu dan jangan liat itu, berarti kita munafik soalnya malu gak bakal bisa kita hapus dan hilang tak terlihat dalam hidup kita. Jadi cara satu – satunya adalah dengan HINDARI. Menghindar bukan berarti gak melihat, menghindar adalah menjauhi sesuatu saat sesuatu yang tidak diingini itu terlihat. Bagaimana cara kita menghindar? Disini ada 3 hal yang harus diperhatian :

1. Fokus pada tujuan = Bila kita ingin gak malu lagi, fokuskan tujuan kita jauhi perasaan malu, bagaimana caranya? Bila kita malu terhadap orang banyak, belajarlah bergaul dengan orang banyak cobalah ucapkan salam pada stiap orang yang kita temui.
2. Belajar mengucap syukur = Biasakan stiap hal yang kita kerjakan itu untuk Tuhan dengan perasaan ucapan syukur bukan suatu keharusan, kewajiban atau paksaan. Bila kita membiasakan itu maka stiap pekerjaan yang kita kerjakan bakal maksimal.
3. Penuhi kebutuhan = Hal ini berkaitan dengan mengucap syukur, penuhi kebutuhan disini adalah memenuhi kewajiban kita.

Yach jawaban itu sangat memuaskan dan sangat memberkati diriku. Aku percaya bila Tuhan didalam aku maka pelayanan maksimal pasti bisa aku lakukan.

Ech,… sebelum aku akhiri postingan ini aku punya pertanyaan. Coba kalian pikir, seberapa dekat kamu sama Allah? Bagaimana hubungan kalian bersama-Nya? Bagaimana kalian menyebut atau memanggil nama-Nya?
Tau cerita PINOKIOkan? Bagaimana Pinokio panggil Gebeto penciptanya? Bapak itulah panggilan Pinokio pada Gebeto, Tuhan atau Allahpun sama begitu, Dia ingin kita selalu panggil Dia Bapa karena hubungan Bapa dan anak sangat erat, dekat dan anak selalu membutuhkan Bapanya. Bila bapa dunia kita gak seperti yang kita ingini karena iblis yang telah merusak gambar bapa maka pandang Bapa Sorgawi Dialah Bapa kita yang sesungguhnya.

Tuhan = Panggilan hamba kepada tuannya.
Allah = Panggilan ciptaan kepada penciptanya.

Semua panggilan kepada Bapa, memang baik selama kita menyebutnya tidak dengan sembarangan, tapi panggilan memperlihatkan seberapa dekat kita dengan Bapa.
Example : Tidak mungkin kita menyebut orang yang gak kita kenal dijalan dengan sebutan Papi dan Mami. Seorang sahabat juga pasti punya panggilan akrab yang menujukkan itu sahabat, contoh gampangnya bagaimana kita panggil orang yang kita kasihi “pacar” 😀 ?

Iklan

Aksi

Information

4 responses

2 12 2008
elfrida

syaloooooooooooooom
pertamax hehehehe
GBU

26 12 2008
kartiko

BUat Prass & ELfrida Met Natal 2008 dan Tahun baru 2009
Tuhan Yesus Memberkati

26 12 2008
gue

Aku ini pemalu juga malu2in tolong bagi2 tips donx utk gak punya malu alias muka tembok. he,….he… 100x GBU

31 01 2009
harjo

Mungkin yg dimaksud adalah minder (rendah diri), maaf ya kalau saya salah menangkap.
Sebab terkadang perasaan malu itu diperlukan. Betapa bahayanya jika orang (misal) sudah korupsi, tetapi tidak ada rasa malu sedikit pun. He he he…
Kalau minder (mungkin disebabkan oleh malu juga), ini memang tidak boleh, dan berdosa. Pertanyaan mendasarnya adalah, kenapa dia sampai minder (malu), karena ada sesuatu yang kurang pada dirinya. Tetapi begitu kekurangan itu terpenuhi, bukankah orang ini akan menjadi sombong? Padahal kesombongan adalah lawan dari Allah? Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: