Maju Melangkah dan Berfikir Benar

6 04 2009

Maju melangkah dapat didefinisikan sebagai awal menuju suatu hal yang ingin dicapai. Dalam meraih suatu hal yang ingin dicapai membutuhkan suatu usaha tentunya. Kita lihat saja seorang anak kecil yang masih balita, bagaimana proses hingga akhirnya si balita dapat berjalan. Suatu pencapain juga perlu adanya berani brubah, kita bayangkan saja hal yang sering kita dengar “sejarah Bangsa kita”, bagaimana proses bangsa kita bisa meraih kemerdekaan?? Mereka berani berubah dari suatu pandangan yang kolot mementingkan diri sendiri menjadi seorang yang beridealisme “Bersama kita teguh bercerai kita runtuh”. Dalam semua itu pencapaian juga perlu adanya suatu pengorbanan, disini adalah hal yang paling penting. Bila kita ingin sukses kita perlu berkorban, contoh dalam pengorbanan disini sangat banyak bisa kita ambil dari diri sendiri, orang lain, cerita-cerita,dll.

Sebagai contoh yang sering kita alami sebagai anak muda adalah seorang gadis. Bila kita mengingini seorang gadis menjadi pacar kita, apa yang kita lakukan? Yang pertama kita melakukan “Proses” pendekatan seperti proses anak balita yang ingin berjalan. Tentunya yang namanya proses pasti memerlukan juga “Perubahan” dimana yang dulunya kita gak tahu kepribadian, tingkah laku si gadis apa yang disukai maupun yang tak disukai kita dipaksa berubah mengerti dan memahami sang gadis ini tentunya. Semua itupun tak luput juga dari “Pengorbanan”, kita bakal mati-matian melakukan segala cara untuk mendapatkan hati si gadis. Seperti halnya kita berkorban waktu, tenaga, uang dan pikiran hanya untuk memikirkan si gadis.

Itulah sbagian usaha yang dapat kita lakukan dalam meraih suatu hal yang ingin dicapai, tapi itu smua cuma usaha manusiawi kita, ingat yang menentukan adalah Allah. Jadi kita harus sertai smua itu dengan doa. Berbicara tentang doa aq jadi teringat 2 macam penyembahan yang salah yang sering dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang sering dilakukan.

Yang pertama adalah “Penyembahan Berhala”. Penyembahan berhala bukan hanya cuma menyembah patung tapi bisa jadi menjadikan manusia, hobi, dll menjadi suatu hal yang lebih dari Allah tanpa kita tak sadari sekalipun. Contohnya tanpa tidak sadar kita sering menjual iman kita sperti halnya kita sms “Ketik Reg spasi ramal, spasi zodiac, spasi,……dll”, yang aku benci dari negara ini adalah sok Alim padahal busuk didalamnya beraninya menghakimi tak mau dihakimi. Liat saja bila ada suatu orang yang yang terang-terangan melenceng dari norma agama kita serentak berkata “KAFIR” kita tidak menonton diri sendiri apa yang slama ini kita lakukan. Bila ada yang tidak disukai kita slalu fonis dengan kata “KAFIR” dan “NAJIZ”, padahal hal najiz dan kafir itu ada dan sudah merakyat sperti kirim sms REG spasi,….. bahkan ada yang terang-terangan sperti Ponari, liat apakah ada suara “KAFIR”? mengapa tidak terdengar? Karena mereka merasa membutuhkan tak peduli dengan kata “KAFIR” dan “NAJIS” lagi. Karena hal sperti itulah para pembuat kekafiran membuat tameng yang besar dari kebodohan kita. Pernahkan kita berfikir bila kita berkata “KAFIR” pada seorang dukun dan dia menjawab “Apakah salah bila aku bisa melakukan kebaikan, menyembuhkan orang, membantu masalah orang, dengan apa yang aku bisa?”. Bila kita berfikir secara mendalam, penyembahan berhala adalah kita menyembah berhala agar berhala itu melayani kita, liat saja difilm-film atau mungkin disekitar anda, stiap orang yang menyembah berhala mengharapkan sesuatu kepada sang berhala untuk mengabulkan permintaan kita, bener gak? Jadi bila kita menyembah berhala sama halnya kita adalah “BOSnya SETAN” ya gak? Jadi apakah layak kita disebut manusia lagi?

Penyembahan yang salah kedua adalah “Memberhalakan Allah” ini sama halnya seperti menyembah berhala cuma yang membedakan kali ini Allah sebagai obyek yang melayani kita. Tanpa tidak sadar kita sebenarnya sangat-sangat kurang ajar kepada Allah. Kita sering berdoa, menyembah Allah hanya agar Allah melakukan keinginan kita seperti kita berdoa hanya karena kita ingin diberkati, mendapat jodoh, agar kita pandai, dll. Padahal tanpa kita mintapun Allah pasti memenuhi kebutuhan kita, bila ada yang menghalangi berkat kita, intropeksilah diri apa yang menghalangi berkat itu turun atas kita, apakah kelakuan kita, perkataan kita atau apa saja yang menjadikan dosa menjadi penghalangnya.

Iklan